Saat Nilai-Nilai Pondok Bertemu Realitas Kampus



https://id.pinterest.com/pin/1017883953299437356/

Menjadi mahasiswa merupakan fase baru bagi banyak santri. Peralihan dari lingkungan pondok menuju kampus bukan hanya soal berpindah tempat belajar, tetapi juga memasuki budaya yang berbeda. Jika di pondok hampir setiap aktivitas memiliki aturan, kampus menawarkan ruang yang bebas bagi mahasiswanya. Perbedaan inilah yang sering membuat sebagian santri perlu menyesuaikan diri tanpa kehilangan nilai yang telah dibangun selama berada di pesantren.

Di pondok pesantren, hubungan antara laki-laki dan perempuan diatur dengan jelas. Batas interaksi dijaga melalui berbagai aturan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tujuannya bukan untuk membatasi ruang gerak santri, melainkan membentuk adab dan melatih pengendalian diri. Sejak awal, santri dibiasakan menempatkan lawan jenis secara proporsional sehingga perhatian mereka tetap tertuju pada proses menuntut ilmu.

Berbeda dengan kehidupan di pondok, kampus menghadirkan suasana yang lebih terbuka. Mahasiswa laki-laki dan perempuan belajar di kelas yang sama. Mereka berdiskusi dalam satu kelompok dan bekerja sama menyelesaikan berbagai tugas. Kondisi seperti ini merupakan hal yang wajar karena dunia akademik memang menuntut adanya kolaborasi. Namun, perubahan tersebut tidak jarang membuat santri mengalami kebingungan. Nilai yang selama ini dijaga bertemu dengan budaya kampus yang memiliki cara pandang berbeda terhadap pergaulan.

Persoalan muncul ketika batas antara kebutuhan akademik dan kedekatan pribadi mulai tidak terlihat. Hubungan yang awalnya hanya untuk menyelesaikan tugas dapat berkembang menjadi pergaulan yang berlebihan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar justru habis untuk menjaga hubungan yang tidak berkaitan dengan tujuan kuliah. Lambat laun, mahasiswa mulai merasa bahwa menjaga batas pergaulan adalah sesuatu yang berlebihan karena lingkungan di sekitarnya menganggap hal itu biasa. Jika keadaan seperti ini terus berlangsung, orientasi sebagai pencari ilmu akan semakin bergeser. Yang semula datang ke kampus untuk belajar akhirnya lebih sibuk mengikuti arus pergaulan.

Padahal, menjaga nilai-nilai pondok bukan berarti menolak untuk berinteraksi. Kampus tetap membutuhkan kerja sama dalam proses belajar maupun kegiatan organisasi. Mahasiswa tidak mungkin menyelesaikan seluruh tanggung jawabnya seorang diri. Yang perlu dijaga adalah cara berinteraksi dan tujuan dari hubungan tersebut. Selama komunikasi dilakukan untuk kepentingan akademik atau organisasi, tidak ada alasan untuk menghindarinya. Justru bekal adab yang diperoleh di pondok dapat menjadi pegangan agar setiap hubungan tetap berjalan secara profesional. Dengan niat belajar yang tetap lurus, seorang santri akan lebih mudah menentukan batas antara kebutuhan dan keinginan.

Santri tidak perlu memilih antara menjadi pribadi yang tertutup atau mengikuti seluruh budaya kampus. Keduanya bukan pilihan yang tepat. Yang dibutuhkan adalah sikap moderat (tengah - tengah). Santri dapat bergaul dengan siapa saja, aktif dalam berbagai kegiatan, dan tetap menjaga nilai yang diyakini. Kampus memang mengajarkan keterbukaan, tetapi keterbukaan tidak harus menghilangkan adab. Justru ketika seseorang mampu beradaptasi tanpa kehilangan prinsip, di situlah nilai pendidikan pondok benar-benar menemukan maknanya dalam kehidupan kampus.

Penulis: Lulu Aprilia Agusti

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama