Moderator, M. As’ad Saifullah membuka acara, menegaskan bahwa bagi seorang pemimpin, kata-kata bukanlah sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi dari pengaruh dan perubahan.
Garry Satrio Nuswantoro selaku pemateri pada diskusi kali ini mengungkapkan bahwa kata-kata bukan sekadar alat komunikasi, melainkan kekuatan dahsyat yang mampu mengubah dunia, serta bagaimana seorang pemimpin bisa menggunakan kata-kata untuk memengaruhi dan membawa perubahan.
Pemateri dalam sesi tersebut memaparkan perbandingan menarik antara gaya retorika Nabi Muhammad saw., dan Ir. Soekarno menyoroti bagaimana ideologi menjadi pijakan utama dalam membentuk "impact the world".
“Berbeda dengan mukjizat fisik Nabi Musa a.s., atau Nabi Isa a.s., mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw., adalah Al-Qur'an, yang berisi firman Allah. Beliau adalah basyar (manusia biasa) yang sempurna, sehingga 100% bisa kita contoh. Landasan ideologi beliau adalah wahyu dan Al-Qur'an. Sementara Ir. Soekarno berpijak pada ideologi sosialisme yang membentuk keberanian dan kecerdasan retorikanya”, jelas pemateri.
Pemateri juga mengingatkan bahwa kata-kata sederhana seperti 'tolong', 'terima kasih', 'maaf', dan 'bersyukur' sebenarnya memiliki dampak luar biasa. Namun, di era politik tanpa kebenaran mutlak, kata-kata positif ini kerap ditunggangi kepentingan.
Dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 105
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ ١٠٥
"How to lead the world, impact the world, it's up to you. Kita bebas merangkai kata untuk memimpin dunia. Namun hasilnya bergantung pada dua hal, bacaan yang menghidupi pikiranmu, dan lingkungan yang mewarnai hatimu.," tambahnya.
Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Dua orang mahasiswa melontarkan pertanyaan: "Apakah harus punya latar belakang yang baik agar perkataan kita berdampak baik? Dan bagaimana jika ada pemimpin yang komunikasinya baik, tetapi integritas moralnya buruk?"
Menjawab pertanyaan pertama, pemateri mengutip prinsip
“ أُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ ”
Ia mencontohkan Firaun yang mampu berkata baik meskipun dia adalah Firaun. "Latar belakang di usia 1-12 tahun itu tidak bisa kita tentukan, namun setelah 12 tahun, kita bisa mengubah dan membangun latar belakang itu dengan bacaan dan pergaulan yang positif," tegasnya.
Terkait pemimpin bermoral buruk namun pandai bicara, pemateri menegaskan bahwa “lebih baik memiliki pemimpin meski buruk daripada tanpa pemimpin, karena tidak adanya pemimpin akan memicu terjadinya kekacauan. Dalam hal ini, bukan berarti pemimpin yang buruk itu diperbolehkan. Pemimpin yang buruk artinya dia bukan seorang pemimpin dan harus ditumbangkan,” pungkasnya.
Memutup acara, moderator menyimpulkan bahwa kepemimpinan yang didengar lahir dari ideologi yang kokoh dan kemampuannya dalam menyesuaikan retorika dengan audiens. Di era post-truth dengan arus informasi yang deras, publik dituntut untuk menyaring sebelum berbagi. Semua itu harus tetap berpijak pada kebenaran mutlak.
“Ideologi yang jelas, retorika yang tepat, saring sebelum sharing, dan berpegang pada kebenaran mutlak,” tutupnya.
Reporter: Layla Mariyatul Qibtiyyah
Editor: Fatih Rizqan
