Divisi Keilmuan Gelar Halaqah Kitab: Mengupas Rahasia Nuzulul Qur'an dalam Perspektif Kitab Ulumul Qur'an


Semarang (15/04/26) – Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (HMJ IAT) , UIN Walisongo Semarang mengadakan kegiatan rutin Halaqah Kitab. Diskusi kali ini membahas tentang peristiwa Nuzulul Qur’an berdasarkan kitab Ulumul Qur’an karya Dr. Nuruddin ‘Itr.

Kegiatan ini diawali dengan pemaparan tinjauan sistematika kitab, terkhusus mengenai penempatan bab Nuzulul Qur’an yang disampaikan oleh Salsabila Aulia Insyani selaku pemateri.

Menurut Salsabila, kitab Ulumul Qur'an memiliki keunikan dibandingkan kitab sejenis lainnya yang juga membahas sejarah turunnya Al-Qur'an, seperti Mabahits Fi Ulumil Quran atau Al-Itqan.

“Dalam kitab Ulumul Qur’an ini, bab Nuzulul Qur’an terletak sebelum bab Asbabun Nuzul, sedangkan dalam kitab-kitab yang lain justru terletak setelah bab Asbabun Nuzul. Dengan demikian, pembaca diminta untuk memahami terlebih dahulu mengenai bagaimana proses turunnya Al-Qur’an, baru kemudian mempelajari sebab-sebab turunnya Al-Qur’an,” tuturnya.

Dalam diskusi tersebut, peserta diajak memahami bahwa Al-Qur’an diturunkan melalui tiga tahapan. Selain itu, dibahas juga mengenai transmisi wahyu. Berdasarkan kitab Ulumul Qur'an pada halaman 27, ditegaskan bahwa Al-Qur’an turun dalam bentuk lafaz dan makna yang langsung dari Allah Swt., bukan sekadar ide atau makna dari malaikat Jibril.

Pemateri menjelaskan tentang sejumlah hikmah Nuzulul Qur’an secara berangsur-angsur, di antaranya, menjaga keaslian dan kemurnian Al-Qur’an melalui proses hafalan dan pencatatan yang terkontrol, menjadikan hati Nabi Muhammad saw., menjadi lebih kuat dalam menghadapi karakteristik serta watak umat Islam pada saat itu, hingga cakupan risalah Nabi Muhammad saw., yang bersifat universal, tidak hanya untuk umat sezaman, tetapi juga untuk seluruh umat manusia akhir zaman.

“Di antara hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur adalah untuk memantapkan hati Nabi Muhammad saw., bahwa beliau benar-benar utusan Allah Swt., dan pembawa risalah untuk umat-umatnya. Al-Qur’an sendiri masih terjaga keasliannya sampai saat ini, berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya yang tidak kita ketahui keasliannya,” ungkap Salsabila.

Dari diskusi ini, kita bisa memberikan perhatian lebih tidak hanya pada penurunan Al-Qur’an saja, tetapi juga terhadap sifat ummi yang ada pada diri Nabi Muhammad saw. Sifat ummi tersebut dipandang sebagai mukjizat yang membuktikan bahwa Al-Qur’an murni wahyu Allah, bukan karangan manusia.

Reporter: Zulfah Nur Rosyad

Editor: Layla Mariyatul Qibtiyyah

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama