HMJ IAT dan Psikologi Gelar Talkshow: Mengurai Quarter Life Crisis antara Takdir dan Ikhtiar


Semarang (30/04/26) – Teras Tafsir HMJ Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dan Psychodiscus HMJ Psikologi, UIN Walisongo Semarang, mengadakan kegiatan kolaborasi. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 30 April 2026, di Teater SOSHUM Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini bernama Talkshow dengan tema Antara Takdir dan Ikhtiar: Quarter Life Crisis dalam Perspektif Psikologi dan Tafsir.

Kegiatan ini dibuka oleh saudari Mega Lestari sebagai MC, lalu dilanjutkan dengan sambutan oleh WD III Fakultas Psikologi dan Kesehatan dan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora. Terdapat juga sambutan-sambutan mulai dari ketua panitia, ketua umum HMJ Psikologi dan ketua umum HMJ IAT.

Sebelum mulai talkshow, terdapat perwakilan dari organisasi SULBI (Sahabat Unik Luar Biasa) yang memaparkan mengenai organisasi ini. SULBI (Sahabat Unik Luar Biasa) adalah komunitas sosial berbasis di Semarang yang berfokus pada edukasi, sosial, dan pendampingan penyandang disabilitas untuk menciptakan lingkungan inklusif.

Talkshow ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Ibu Nadia Rosliani, M.Psi., Psikolog. Dan Bapak Dr. Agus Imam Kharomen, M.Ag., yang dipandu oleh Vidya Rahma Aureli, selaku moderator, mengulas topik Antara Takdir dan Ikhtiar: Quarter Life Crisis dalam Perspektif Psikologi dan Tafsir. Topik ini mengangkat permasalahan krisis emosional yang sering dialami oleh individu berusia 20-30-an dengan karakteristik perasaan tak berdaya terhadap kemampuan diri, serta takut akan kegagalan atau Quarter Life Crisis.

Hal ini dibahas dari sudut pandang psikologi dan ayat Al-Qur’an yang membahas mengenai hal ini. Pak Agus menyampaikan, “Menurut Fakhrudin ar-Raazi, takdir itu terdiri dari 3 hal, yaitu: pengetahuan Allah Swt., keputusan Allah Swt., dan Sunatullah (sistem alam), dan dalam Sunatullah inilah wilayah di mana manusia bisa mengubah takdir dengan usaha,” ujarnya. 

Beliau juga menjelaskan, “Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diberi takdir oleh Allah Swt., namun masih diberi pilihan, karena Allah Swt., memberi manusia akal agar mereka bisa memiliki pilihan, tidak seperti makhluk lain yang tidak memiliki pilihan. Contohnya, Allah Swt., menciptakan Matahari untuk terbit dari Timur ke Barat, maka akan berjalan seperti itu; Matahari tidak memiliki pilihan untuk terbit dari Utara ke Selatan karena bosan,” jelasnya.

Talkshow ini juga membahas faktor-faktor yang dominan sehingga membuat seorang individu mengalami Quarter Life Crisis secara psikologis. Bu Rosi mengatakan, “ Faktor QLC di antaranya yaitu transisi relasi di mana circle pertemanan semakin kecil, perubahan sikap relasi dengan keluarga dan tema, lalu eksplorasi identitas karena seorang individu akan mengeksplorasi dirinya dan mencari jati diri itu sampai usia 25 tahun, sifat prefecsionism & fear of failur, kurangnya makna hidup, membandingkan hidup dengan orang lain, dan ketidakstabilan ekonomi,” katanya.

Sedangkan hal-hal yang bisa membuat QLC dalam Al-Qur’an menurut Pak Agus yaitu, “Ketika manusia terkadang sering memikirkan, mengurusi hal-hal yang bukan seharusnya dalam wilayahnya sebagai makhluk, karena ada hal-hal yang memang hanya Allah Swt., yang mengetahui. Sejatinya, wilayah manusia sebagai makhluk Allah Swt., adalah berusaha, setelah berusaha baru bertawakal kepada Allah Swt. akan apa hasil yang akan diperolehnya, dan kemudian Ridho akan hasil yang didapatkan,” tuturnya. 

Pak Agus juga menambahkan, “Hal yang sering membuat manusia mengalami kecemasan yaitu setelah selesai berusaha, dia tidak bertawakal, namun terlalu memikirkan dan khawatir akan apa hasil yang akan dia peroleh itu.” tambahnya.

QLC ini memiliki dampak sangat signifikan terhadap seorang individu dalam berbagai aspek. Bu Rosi menjelaskan dampak nyata bagi seorang yang sedang mengalami QLC ada di berbagai aspek diantaranya:

1. Aspek spiritual: Seorang yang sedang mengalami QLC bisa sampai meragukan kekuatan dan takdir Allah Swt.

2. Aspek Mental: Penderita QLC akan sering merasa overthinking dan mengalami kecemasan yang berlebihan, merasa hampa dan kehilangan arah, mulai meragukan diri sendiri serta berisiko mengalami depresi ringan.

3. Aspek Sosial: Penderita QLC akan menarik diri dari lingkungan sosial dan dapat menimbulkan konflik sosial di mana dia akan merasa iri dengan pencapaian orang lain. Dia akan membandingkan kekurangan diri dengan kelebihan orang lain.

4. Aspek Produktivitas: penderita QLC akan mengalami penurunan performa, mudah keluar dari pekerjaan sehingga berakhir tidak melakukan apa-apa dan tidak memiliki pekerjaan apa-apa.

Pak Agus menceritakan bahwa ketika beliau sedang berguru pada Prof. Quraish Shihab, ada temannya yang bertanya bagaimana agar bisa menjadi seperti beliau, Prof. Quraish Shihab. Lalu Prof. Quraish Shihab berkata, “Jangan pernah membandingkan diri kita yang masih berproses dengan orang yang sudah sampai di tujuannya,” ungkapnya. 

Kemudian Pak Agus menjelaskan, “Kalian jangan membandingkan diri kalian yang masih 20-an dengan Pak Quraish yang sudah berusia 60-an. Bandingkanlah diri kalian dengan Pak Quraish saat seusia kalian,” jelasnya.

Lalu bagaimana al-Qur’an memberikan solusi dalam permasalahan QLC ini. Pak Agus melanjutkan bahwa “optimisme itu penting, dan ada dalam Q.S. Qashash ayat 21-22. Dalam surat tersebut terdapat penafsiran bahwa melibatkan Allah Swt., dalam segala hal dan menunjukkan kapasitas diri kita. Meskipun Allah Swt., sudah menakdirkan, kita harus fokus pada peningkatan value kita dan jangan habiskan tenaga kita untuk membandingkan diri dengan orang lain.”

Dari sudut pandang psikologi, Bu Rosi menuturkan, “Cara agar kita bisa keluar dari QLC adalah dengan mengenali diri sendiri, menentukan arah tujuan kita yang sesuai dengan keinginan kita, bukan orang lain, membangun kontrol pada diri kita, dan harus mengelola social comparison dengan mengurangi scrolling,” tuturnya.

Pak Agus menambahkan, “Sikap spiritual yang harus ditanamkan saat menghadapi QLC yaitu, memahami sifat Allah Swt., dengan selalu belajar mengambil keputusan sesuai dengan ilmu dan pengalaman yang kita peroleh. Melakukan perubahan dalam hidup yaitu dengan mengubah mindset karena motivator terpenting adalah diri kita sendiri,” tambahnya.

Di akhir sesi pertanyaan, Bu Rosi dan Pak Agus memberi pesan. 

Bu Rosi berpesan, “Kalian tidak sendirian. Coba kenali diri sendiri: mana kelebihan dan kekurangannya. Segera tentukan kira-kira setelah ini arah hidupnya mau ke mana. Tanya ke diri sendiri, karena yang menjalani adalah diri sendiri,” ungkapnya. 

Pak Agus juga berpesan, “Takdir adalah pengetahuan Allah Swt., tugas kita berusaha, sesudah ada hasil, maka kita berserah diri, keimanan kita terhadap takdir itu tidak melarang kita untuk berusaha,” ucapnya.

Acara ini ditutup dengan closing statement dari Bu Rosi dan Pak Agus.

Bu Rosi: “Kalau misal kalian sedang berada di fase ini, bukan berarti kalian itu tertinggal, mulai terbentuk dari langkah kecil, tidak harus langsung sempurna, tapi konsistensi di langkah yang baik.”

Pak Agus: “Ibadah adalah sarana kita mengenal Allah Swt. Jangan jadikan ibadah hanya sebagai seremoni atau kewajiban. Karena dengan mengenal Allah Swt., kita akan lebih bahagia dalam menjalani kehidupan ini.”

Reporter: Nabila Nur Isnaini.

Editor: Layla Mariyatul Q.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama