Menolak Kepintaran Semu, HMJ IAT Gelar Diskusi Review Buku "Teruslah Bodoh, Jangan Pintar" Karya Tere Liye

 


Semarang (13/05/2026) – Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UIN Walisongo Semarang mengadakan kegiatan Review Buku sebagai bentuk program rutinan yang diadakan oleh divisi keilmuan HMJ IAT. Review buku kali ini membahas buku yang berjudul “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” karya Tere Liye.

Di awal diskusi kali ini, Aliyya Qothrunnada sebagai pemantik mengatakan bahwa, buku ini menjelaskan sisi kebalikan dari kata ‘bodoh’ dan ‘pintar’, di mana arti bodoh secara harfiah itu menempati kedudukan negatif dan pintar itu positif.

“Buku itu menjelaskan tentang sekelompok aktivis yang ingin melawan pemerintah dan sistem hukum yang berlaku di Indonesia. Bodoh di sini diartikan sebagai sebuah kesederhanaan hidup, jadi tidak semua hal yang negatif itu selalu bernilai negatif dan tidak pula semua hal yang positif itu selamanya bernilai positif ,” tuturnya.

Dalam buku ini, sang penulis mengutarakan kritiknya tentang pelajar dan pejabat yang menggunakan kecerdasan atau kepintarannya untuk hal yang negatif. Buku ini menggunakan alur maju-mundur. Penulis berharap pembaca dapat merasakan langsung kesaksian pilu mereka.

Buku ini menyoroti bagaimana oknum hukum dan penguasa yang serakah didanai oleh pihak berkepentingan, sehingga keadilan sulit ditegakkan. Berkisah tentang sekelompok aktivis lingkungan yang berjuang melawan perusahaan tambang besar yang sedang melakukan penambangan ilegal dan merusak alam. Dengan akhir cerita yang menyedihkan namun realistis dan mencerminkan situasi yang seolah hal itu nyata terjadi.

“ Simbol perlawanan dan kebodohan itu diartikan bahwa kebodohannya itu melawan kepintaran yang dimanipulatif,” tambahnya.

Diceritakan bahwa pada akhir cerita terjadi peristiwa peledakan di kawasan istana. Terkait hal tersebut, para peserta mencoba menganalisis penyebab kejadian itu dengan meninjau kembali rangkaian sejarah sebelumnya. Analisis berawal dari adanya rasa frustrasi terhadap suara-suara rakyat yang tidak pernah didengar, sehingga seolah-olah rakyat yang disalahkan, sementara pemerintah hanya dapat menyaksikan kejadian dari kejauhan.

Di penghujung diskusi, topik beralih ke korupsi di lingkungan sekitar. Beberapa peserta mengemukakan asumsi bahwa mahasiswa yang telah belajar dan memahami cara menghindari korupsi seharusnya tidak melakukannya.

Diskusi diakhiri dengan pembahasan mengenai pentingnya mendengarkan aspirasi rakyat sebagai upaya preventif terhadap akumulasi kekecewaan di masyarakat.

Reporter: Zulfah Nur Rosyad

Editor: Layla Mariyatul Qibtiyyah

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama