Semarang (18/08/26) – Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo resmi menggelar Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) pada tanggal delapan belas Agustus dengan mengusung tema “Merajut Tradisi Akademik untuk Kemanusiaan dan Peradaban”. Acara tahun ini diikuti oleh para mahasiswa baru sejumlah 4.623 dari sembilan fakultas.
Hari pertama PBAK diawali dengan beberapa sambutan mulai dari rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., sekaligus sebagai pembuka acara, hingga ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (Dema-U).
Mohammad As’ad Hasanuddin Afandi, selaku ketua Dema-U, menyampaikan sambutan di depan para mahasiswa baru.
“Ini adalah awal dari proses kalian menjadi insan yang berpikir kritis, berakhlakul karimah, dan insan yang bertanggung jawab atas mimpi yang dimiliki. Universitas adalah ruang untuk mempertanyakan, memahami, hingga menghadirkan solusi bagi problematika sosial,” sambutnya.
Selanjutnya, ada orasi ilmiah yang disampaikan oleh beberapa tokoh, mulai dari Taj Yasin Maimoen, selaku Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah, dan Farida Farichah, Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Republik Indonesia.
Di tengah orasi Taj Yasin Maimoen, sekelompok mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) melakukan interupsi terhadapnya.
Jolang Teja Manah, mahasiswa FISIP angkatan 2024, mewakili kelompoknya untuk menyampaikan aspirasinya.
“Kami telah melakukan penelitian tentang penurunan tanah dan banjir rob di kawasan pesisir Semarang,” ungkapnya.
Taj Yasin Maimoen menjawab persoalan itu dengan menjelaskan bahwa penanganan terhadap banjir telah dilakukan secara bertahap.
”Bukan hanya tiap tahun, tetapi pemerintah menanganinya setiap kali bencana rob tiba. Pemerintah membangun proyek Hybrid Sea Wall sebagai rencana penanganan bahkan hingga mengembangkannya dengan bantuan masukan dari penelitian kampus Undip”, Jelasnya
Selanjutnya, Farida Farichah selaku Wamenkop yang seharusnya turut hadir untuk menyampaikan orasi ilmiah berhalangan hadir sehingga digantikan oleh perwakilannya.
Gibral Muhammad Nur, selaku tenaga ahli di lingkungan Wamenkop, menyampaikan orasi ilmiah dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa baru untuk bertanya.
Fiki Pratama, mahasiswa baru dari Fisip mempertanyakan perencanaan Pembangunan Koperasi desa (Kopdes) Merah Putih (KDMP) dan dampaknya terhadap msyarakat.
“Apakah sebelumnya sudah dilakukan survei terhadap pembangunan tanah? Karena dilihat dari informasi yang beredar, bangunan itu didirikan di daerah persawahan, pegunungan, tengah hutan, bahkan perbukitan,” ungkapnya.
Alih-alih menjelaskan mekanisme survei, Gibral justru menegaskan fungsi Kopdes Merah Putih sebagai middleman.
“Kopdes Merah Putih ini kelak akan menjadi perantara. Dibangun bukan atas milik TNi atau Polri, melainkan milik pemerintah desa. Jadi, fungsi Kopdes Merah Putih ini adalah untuk menghilangkan tengkulak”, tegasnya.
Hari kedua PBAK diisi dengan materi tentang navigasi kampus yang mencakup pengenalan rumah akademik, pemahaman birokrasi, dan persiapan berprestasi, yang disampaikan oleh para wakil dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora.
Wakil Dekan I, Prof. Dr. Moh Nor Ichwan, M.Ag., yang membidangi akademik dan kelembagaan, menyampaikan bahwa sejak tahun 2024 fakultas telah menggunakan Kurikulum OBE yang dirancang untuk mengantarkan mahasiswa mencapai kompetensi tertentu, seperti menjadi mufassir bagi prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, dengan perkuliahan yang berlangsung selama empat tahun untuk meraih gelar sarjana, seluruh informasi perkuliahan dapat dipantau melalui Walisiadik.
Wakil Dekan II, Bapak H. Sukendar, M.A., Ph.D., yang bertanggung jawab di bidang administrasi umum, perencanaan, dan keuangan, menjelaskan bahwa mahasiswa perlu mempersiapkan IPK di atas 3,5, kemampuan komunikasi yang baik, kemampuan organisasi, keterampilan berbahasa, serta life skill yang dapat diperoleh tidak hanya di dalam kelas tetapi juga di luar kelas, dan beliau menyatakan telah menyiapkan beberapa sarana prasarana yang harus dimanfaatkan dengan baik oleh mahasiswa.
Wakil Dekan III, Ibu Dr. Hj. Sri Purwaningsih, M.Ag., yang membidangi kemahasiswaan, alumni, dan kerjasama, menyampaikan kewajiban mahasiswa, yaitu menempuh 20 SKS per semester dengan sistem paket untuk semester 1 dan 2, kemudian untuk semester 3 dan 4 mahasiswa dapat memilih sendiri, serta mewajibkan kelulusan TOEFL dan IMKA sebagai syarat pengambilan ijazah, di samping kewajiban setoran hafalan Juz 30 dan 40 hadis, beliau menekankan bahwa kunci kesuksesan terletak pada manajemen waktu serta usaha yang tekun.
Kegiatan dilanjutkan dengan orientasi jurusan oleh Ketua Jurusan, Dr. Muhammad Kudhori, M.Th.I., yang menyampaikan selamat datang kepada mahasiswa baru angkatan 2026 Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Beliau menekankan bahwa jika mahasiswa sungguh-sungguh menekuni prodi ini, maka mereka akan meraih kesuksesan. Beliau berharap mahasiswa tidak puas hanya sampai jenjang S1.
Dr. Muhammad Kudhori juga menjelaskan bahwa gelar lulusan prodi ini adalah S.Ag. Dengan masa studi 8 semester, mahasiswa memiliki kesempatan untuk lulus dalam waktu 3,5 tahun. Hal itu telah dibuktikan oleh banyak alumni. Prodi ini menerapkan integrasi keilmuan berbasis unity of science yang menggabungkan ilmu agama dan sains, sebagaimana dikutip dari Syekh Yusuf Al-Qardhawi, segala ilmu yang memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi umat manusia dapat dikategorikan sebagai ilmu agama atau akhirat, begitu juga sebaliknya.
Sekretaris Jurusan, Bapak Dr. Winarto, S.Th.I., M.S.I., juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru Fakultas Ushuluddin dan Humaniora. Beliau mengucapkan terima kasih karena mahasiswa telah memilih Prodi IAT, seraya menyatakan bahwa pilihan tersebut merupakan pilihan terbaik karena Al-Qur'an adalah kitab paling suci.
Hari ketiga PBAK ditutup dengan orasi ilmiah oleh Dr. Media Wahyudi Askar, S.I.P., M.Sc., Ph.D., yang menyampaikan bahwa anak muda saat ini harus berjuang untuk kehidupan yang lebih baik, universitas serta negara wajib menjamin pendidikan yang layak bagi mahasiswa, serta menegaskan bahwa kampus tidak hanya tempat belajar materi, tetapi juga tempat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dengan dukungan orang tua, guru, dosen, dan lingkungan teman yang baik. Beliau juga mengingatkan bahwa mahasiswa memiliki perjalanan panjang. Di balik itu, Allah memiliki rencana sendiri dalam setiap perjalanannya, sehingga mahasiswa tidak boleh berpikir bahwa datang ke kampus hanya untuk berakhir sebagai mahasiswa, melainkan untuk bermanfaat bagi orang-orang di sekitar.
Reporter: Fatih Rizqan.
Editor: Layla Mariyatul Q.
