https://id.pinterest.com/pin/588001295144816462/
Di tengah gempuran teknologi yang semakin canggih ini, ada inovasi yang sedang marak dibicarakan, yaitu AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan, yang dirancang untuk menunjang manusia dalam berbagai hal, seperti mengolah data, memecahkan masalah, serta memberi rekomendasi atau arahan dalam mengambil keputusan. Sekarang AI sudah banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu, apakah penggunaan AI itu merupakan sesuatu yang salah?, dan akankah AI menggantikan peran manusia, khususnya dalam hal ber organisasi?.
Benar atau salahnya dapat dilihat dari “bagaimana” dan “untuk apa” AI digunakan, Pada hakikatnya, AI bukanlah pengganti manusia, tak lain hanya sebagai alat bantu agar pekerjaan dapat lebih efektif dan efisien. Kualitas baik atau buruknya ditentukan oleh cara manusia dalam hal pendayagunaan.
Dalam dinamika organisasi, sering kali dibutuhkan ide dalam waktu mendadak, misalnya untuk menentukan tema acara, membuat konsep program kerja, mencari inspirasi sebuah karya, dan lain sebagainya. Tidak semua anggota bisa mentah-mentah mendapatkan ide cemerlang dalam kurun waktu yang singkat. Untuk itu, AI dapat berperan sebagai katalisator. AI bisa memberikan macam-macam referensi yang akhirnya dapat dikembangkan atau dipersempit sesuai kebutuhan organisasi. Namun, hasil tersebut tidak semestinya diterima begitu saja. Perlu dilakukan penyaringan agar sesuai dengan nilai, tujuan, dan identitas organisasi. Dengan begitu, peran AI tetap berada di posisinya sebagai pendukung, bukan sebagai pihak yang mengendalikan kreativitas manusia.
Belakangan ini, media sosial ramai membahas tentang, “karya yang sederhana tetapi hasil usaha sendiri lebih dihargai daripada karya yang terlihat sempurna tapi seutuhnya hasil dari AI”. Tidak masalah jika meminta tolong AI dalam hal kreativitas, namun meminta AI membuat secara keseluruhan kemudian mengakui sebagai hasil karya pribadi merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan.
Sejalan dengan firman Allah Swt dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 36.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦
Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.
Ayat ini menegaskan bahwa Allah melarang manusia mengikuti sesuatu tanpa ilmu, sebab semua itu akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh sebab itu, AI sebaiknya dimanfaatkan sebagai sarana akselerasi pekerjaan, bukan sebagai pengganti akal, etika, dan tanggung jawab manusia.
Lantas, apakah organisasi masih bisa relevan di era AI?.
Jawabannya: sangat relevan, karena yang dibutuhkan dalam organisasi bukan sekadar kemampuan mencetuskan ide, tetapi juga butuh nilai-nilai kemanusiaan, seperti komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, serta kemampuan dalam memilah dan mengambil keputusan. Hal-hal tersebut belum bisa sepenuhnya digantikan oleh AI. AI dapat menunjang proses akselerasi pekerjaan, namun dari segi arah, tujuan, makna setiap langkah organisasi tetap berada di tangan manusia.
Tantangan sejati di era AI bukanlah menentukan antara menggunakan atau menolaknya, melainkan bagaimana kita mendayagunakan secara bijak,etis, logis, dan bertanggung jawab.
Penulis: Layla Mariyatul Q.
