HMJ IAT Tutup Rangkaian Teras Tafsir dengan Diskusi Isu Gender Equality melalui Lensa Feminisme




Devisi Keilmuan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, adakan Diskusi dan Penutupan Teras Tafsir dengan tema “Reinterpretasi Gender Equality melalui Lensa Feminisme” di Panggung Budaya Kampus 2 UIN Walisongo Semarang, Kamis (6/11/2025).

Acara yang biasanya digelar di serambi masjid Al-Fithroh Kampus 2 UIN Walisongo terpaksa dipindah di Panggung Budaya karena gerimis yang belum juga reda. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat mahasiswa untuk datang berdiskusi, bahkan mahasiswa lintas fakultas ikut meramaikan.

Lulu, Mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT) sebagai pemantik pertama menjelaskan pengertian feminisme terlebih dahulu.

“Secara umum, feminisme adalah gerakan yang memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan seperti sosial, politik, ekonomi, dan budaya,” ucapnya.

Dalam sejarahnya, feminis terbagi menjadi empat periode, periode sekarang dikenal dengan feminisme digital.

“Periode pertama berlangsung pada abad ke-19 yang menekankan perjuangan hak politik. Gelombang kedua, tahun 1960 berfokus pada kesetaraan ekonomi, kesempatan pendidikan, dan kebebasan reproduksi. Lalu gelombang ketiga terjadi tahun 1990-an, fokus gerakannya menyoroti isu identitas, ras, dan keberagaman perempuan. Gelombang keempat, yaitu sejak tahun 2000-an hingga sekarang, dikenal sebagai feminisme digital yang memanfaatkan media sosial untuk melawan kekerasan dan diskriminasi gender,” jelasnya.

Menurutnya, feminisme tidak bertujuan untuk menentang laki-laki, tetapi untuk menolak segala bentuk ketidakadilan dan diskriminasi yang menghambat kemanusiaan.

“Feminisme bukan soal siapa yang lebih tinggi atau berkuasa, melainkan tentang bagaimana laki-laki dan perempuan dapat berdiri sejajar dalam kemanusiaan dan saling menghormati sebagai sesama ciptaan Tuhan,” tegasnya.

Septi, Mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi (TP) sebagai pemantik ke-dua menerangkan bahwa di dalam Islam, seks dan gender tidak ada sebuah dikotomi.

“Dalam Islam, seks dan gender tidak ada perbedaan, buktinya di Al-Qur’an hanya ada dua pembagian saja, yaitu; Al-Rijal, Al-Nisa, Al-Dzakar dan Al-Untsa,” ungkapnya.

Dengan demikian, menurutnya gender bukanlah konstruksi yang dibangun masyarakat, namun naluri alamiah setiap laki-laki maupun perempuan.

“Ada sebuah penelitian pada anak laki-laki dan perempuan berusia tiga tahun setengah yang diberikan mainan mobil-mobilan. Anak laki-laki, secara alami mempermainkan mobil-mobilan seperti umumnya. Namun, pada anak perempuan tersebut malah ditimang-timang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ia menekankan bahwa istilah kesetaraan gender itu kurang tepat, lebih tepat dengan istilah keadilan gender.

“Jika menggunakan istilah kesetaraan gender maka harus disamaratakan semua, sedangkan kebutuhannya berbeda. Sedangkan kalau keadilan analogikanya seperti adik kakak yang diberikan uang saku sesuai kebutuhannya,” jelasnya.

Munif, Mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT) pemantik ke-tiga memaparkan bahwa penafsiran Al-Qu’an maupun hadis lebih banyak hanya berdasarkan teks bukan konteks.

“Contoh hadis yang dimaknai secara tekstual adalah ‘Tidak akan beruntung suatu kaum (bangsa) yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita’. Hadis tersebut hanya dimaknai secara tekstual dan sering digunakan sebagai alasan bahwa perempuan dilarang menjadi pemimpin,” katanya.

Dalam hadis tersebut, pemaknaannya tidak cukup pada teksnya saja, namun harus melihat latar belakang perkataan itu ada.

”Pada waktu itu nabi sedang menyinggung pemimpin Persia yang sedang mengalami pergantian pemimpin dan dia hanya punya anak perempuan satu yang belum cukup usia, ilmu dan akal untuk memimpin,” terangnya.

Tidak berhenti disitu, Munif menyebutkan tokoh-tokoh feminis dalam Islam berawal dari keresahan pada ketimpangan yang ada.

“Tokoh-tokoh seperti Fatimah Mernisi, Amina Wadud, pada mulanya pasti bingung karena di dunia ini hanya ada dua jenis manusia yaitu perempuan dan laki-laki, namun tidak mendapatkan hak yang sama,” ujarnya.

Bayu, Koordinator Devisi Keilmuan HMJ IAT merasa sangat senang Teras Tafsir terakhir bisa terlaksana meskipun hujan.

“Sangat senang bisa terlaksana, meskipun dalam keadaan hujan. Dari pemantik sendiri pun bagus, karena dari aku pribadi bisa mendapatkan beberapa pengetahuan baru,” tuturnya.

Diaz, Mahasiswa Pendidikan Kimia mengaku kurang puas dengan diskusi tersebut karena belum mendapat lebih banyak prespektif anak IAT karena keterbatasan waktu.

“Saya belum banyak mendengar pandangan teman-teman IAT sendiri yang aku ekspektasikan cukup tajam nanggepin isu-isu feminisme dan harapannya diskusi tafsir nantinya bisa lebih beragam paradigmanya baik dari segi kacamata ideologis maupun relasi,” ungkapnya.

Reporter: Irbah Fatin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama