Semarang (25/02/26) - Himpunan Mahasiswa Jurusan ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (HMJ IAT) mengadakan kegiatan Telaah Tafsir dan Diskusi Dinamis (TAJDID) dengan mengusung tema “Pengetahuan Seputar Ketafsiran’’. Kegiatan ini bertempat di serambi masjid Al-Fitroh Kampus 2 UIN Walisongo Semarang yang menjadi ruang diskusi santai tapi berbobot untuk membahas dunia ketafsiran yang ternyata sangat luas dan menyenangkan.
Acara diskusi kali ini menghadirkan Dyah Fatma Firdausa Putri Sevanora, Demisioner HMJ IAT periode 2024, sebagai pemateri. Sebelum memasuki inti acara mengenai Pengetahuan Seputar Ketafsiran, pemateri memulai dengan sebuah pantun.
“Jalan-jalan ke Kota Lama
Pulangnya naik taksi
Selamat datang teman-teman semua
Di acara sharing santai sore ini “
“Dari beberapa kitab tafsir yang ada, mulai dari periode klasik, modern, dan Nusantara, masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Tafsir klasik misalnya, banyak dipengaruhi konteks sosial zamannya dan cenderung patriarkis. Sementara tafsir modern lebih kontekstual, dan tafsir Nusantara hadir dengan nuansa lokal yang khas serta dekat dengan budaya masyarakat. Pada pertemuan kali ini, kajian difokuskan pada kitab Faidurrahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan karya Muhammad Sholeh bin Umar atau yang lebih dikenal dengan Mbah Sholeh Darat,” ujarnya.
Antusiasme peserta membuat diskusi berjalan panjang. Pemateri, Dyah Fatma Firdausa Putri Sevanora, menyampaikan pandangannya terkait latar belakang penulisan kitab Faidurrahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan.
“Beliau merupakan ulama’ asal Jepara yang dari garis keturunan ibunya masih tersambung dengan Sunan Kudus. Latar belakang penulisan kitab ini adalah keinginan beliau untuk mempermudah masyarakat awam dalam memahami Al-Qur’an. Pada masa itu, banyak masyarakat yang belum bisa mengakses tafsir berbahasa Arab. Karena itu, kitab ini ditulis menggunakan aksara pegon (Jawi al-Mirikiyah), supaya lebih mudah dipahami oleh masyarakat Jawa saat itu. Kitab Faidurrahman sendiri terdiri dari dua jilid. Jilid pertama membahas Surah Al-Fatihah sampai Al-Baqarah, sedangkan jilid kedua membahas Ali Imran hingga An-Nisa’. Sayangnya, penulisan tafsir ini tidak sampai selesai 30 juz karena beliau wafat sebelum merampungkannya,” jelasnya.
“Dari segi metode, tafsir ini menggunakan metode tahlili (analitis), yaitu menafsirkan ayat secara rinci dan sistematis. Coraknya cenderung isyari, bernuansa sufistik, sehingga tidak hanya menjelaskan makna lahiriah ayat, tetapi juga menyentuh sisi batin dan spiritualitas,” tambahnya.
Sebagai penutup, Dyah Fatma Firdausa Putri Sevanora menyampaikan secuil harapannya melalui forum TAJDID.
“Sahabat Tafsir penting untuk mengetahui bahwa tafsir bukan hanya soal teks, melainkan tentang konteks, sejarah, dan kebutuhan umat di setiap zamannya. Karena, belajar tafsir itu tidak hanya tentang memahami ayat, tetapi juga memahami mengenai perjalanan pemikiran di baliknya,” tutupnya.
Reporter: Cintya Devi Aulia Rahmi
Editor: Layla Mariyatul Qibtiyyah
