Seminar Nasional Harlah IAT UIN Walisongo: Menggali Khazanah Tafsir Nusantara di Era Kontemporer


Semarang (21/10/1016) – Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHum) UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan Seminar Nasional dalam rangka memperingati Harlah ke-36 Prodi IAT. Mengusung tema “Menelusuri Khazanah Tafsir Nusantara dan Relevansinya di Era Kontemporer”, kegiatan ini menjadi wadah refleksi dan pendalaman terhadap tradisi penafsiran Al-Qur'an di wilayah Nusantara serta penguatannya di era modern.

Rangkaian acara dipandu oleh Master Of Ceremony, Naila Khotami dan Naela Faela Shufa. Diawali dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Salimatun Nasikhah, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipandu oleh Arum Sekar Wangi. Acara resmi ini dihadiri oleh Ketua Jurusan IAT, Sekretaris Jurusan IAT, serta Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) IAT.

Sesi sambutan diawali oleh Ketua Panitia Semarak IAT 2026, Muhammad Sukron menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang berpartisipasi serta memohon maaf atas keterbatasan panitia. “Jazakumullah wa ahsanal jaza’, terima kasih kepada seluruh peserta, tamu undangan, narasumber, dan civitas akademika yang telah membantu dan berpartisipasi dalam acara Seminar Nasional Harlah IAT ke-36 ini. Mewakili seluruh panitia, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dari rangkaian undangan dan penyelenggaraan terdapat kekurangan maupun kesalahan,” ungkapnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Muhammad Khoiril Anwar, selaku Ketua HMJ IAT. “Alhamdulillah, pada siang hari ini kita dapat berkumpul dalam acara Seminar Nasional Harlah IAT ke-36. Terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang terlibat atas terselenggaranya acara ini. Semoga dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang nyata bagi kita semua,” ucapnya.

Ketua Jurusan IAT, Muhammad Kudhori memberikan apresiasi atas kerja keras pengurus HMJ dan panitia, serta menekankan dampak keilmuan yang diharapkan dari seminar ini. “Selamat kepada HMJ IAT yang telah menyelenggarakan dan menyukseskan acara ini. Terima kasih atas seluruh jerih payahnya, semoga Allah membalas dengan balasan yang tiada tara. Kami berharap setelah acara ini, apa yang disampaikan oleh para narasumber bisa menjadi pemantik dan motivasi agar mahasiswa lebih semangat lagi dalam menggali khazanah-khazanah tafsir,” jelasnya.

Usai penyampaian sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Muhammad Khotibul Umam agar seluruh rangkaian kegiatan mendatangkan keberkahan.
Sebagai simbolisasi puncaknya peringatan Harlah ke-36 Prodi IAT, panitia dan pimpinan fakultas serta jurusan melakukan prosesi pemotongan tumpeng secara khidmat.

Memasuki agenda inti, acara penyampaian materi dipandu oleh Rita Andria Ismawati selaku moderator. Sesi diskusi menghadirkan dua narasumber, yaitu Zainal Arifin Madzkur (Pentashih LPMQ Kemenag RI dan Dosen Universitas PTIQ Jakarta) serta Akhmad Arif Junaidi (Guru Besar UIN Walisongo Semarang).

Akhmad Arif Junaidi memaparkan materi mendalam mengenai tradisi penafsiran Al-Qur'an di tanah Jawa. “Minimnya kajian tentang karya tafsir al-Qur'an Jawa seolah membenarkan asumsi bahwa tidak pernah ada tradisi penafsiran al-Qur'an yang berkembang di Jawa,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa penelusuran akademik justru membuktikan adanya perkembangan tradisi akademik yang mengagumkan. Keberlimpahan karya tersebut dibuktikan melalui berbagai naskah beraksara Jawa maupun Arab Pegon yang tersimpan di Sasana Pustaka, Radya Pustaka, Perpustakaan Kraton Yogyakarta, hingga Universiteit Bibliothec, Leiden Universiteit.

Lebih lanjut, pemateri menjelaskan penemuan naskah kuno seperti Het Boek Van Bonang yang memuat penafsiran sejumlah ayat, di antaranya QS. Al-Fatihah, QS. Yasin, dan QS. Al-Ikhlas. Menurutnya, tradisi penafsiran ini mengalami geliat pesat pada akhir abad ke-19 M yang dipicu oleh maraknya isu modernisme Islam dari Timur Tengah dengan slogan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

“Banyak ulama yang merasa berkewajiban untuk menyesuaikan diri dan mulai memperhatikan tafsir secara lebih serius,” ucapnya.

Hal tersebut mendorong para ulama di kawasan Vorstenlanden menghasilkan karya-karya monumental, baik beraksara Jawa seperti Qur'an Winedhar dan Tafsir Qur'an Jawen, maupun beraksara Arab Pegon seperti Faidl al-Rahman karya Kiai Sholeh Darat.

Selanjutnya, Zainal Arifin Madzkur menyampaikan peta kajian khazanah tafsir Nusantara secara komprehensif. Pemateri menjelaskan bahwa istilah al-Jawi pada masa lalu mencakup wilayah Asia Tenggara yang sangat luas melampaui batas negara modern.

“Khazanah Tafsir Nusantara merupakan keseluruhan corpus intelektual, korpus tekstual, dan tradisi metodologis penafsiran Al-Qur'an oleh mufasir di Asia Tenggara sejak era klasik hingga kontemporer,” ungkapnya.

Dalam perkembangannya, para sarjana mencatat adanya pergeseran dari tafsir sederhana menuju keragaman metodologi yang dipengaruhi oleh lima dialektika utama: performatif, reseptif, eklektik, strategi perlawanan, dan aksentuasi.

Selanjutnya, pemateri mendemonstrasikan dua studi kasus utama. Mengenai konsep Ummatan Wasathan dalam QS. Al-Baqarah: 143, para mufasir Nusantara seperti Hasbi ash-Shiddieqy, Hamka, dan Quraish Shihab secara konsisten memaknainya sebagai umat pilihan yang adil dan seimbang antara dunia dan akhirat. Sementara pada studi kasus isu gender dalam QS. An-Nisa: 1, Hamka secara tegas menolak riwayat isra'iliyyat mengenai penciptaan perempuan dari tulang rusuk.

Zainal mengutip pembacaan Hamka yang menekankan kesetaraan hakiki manusia “Laki-laki dan perempuan hanyalah 'teknik' Ilahi kecil, seperti positif-negatif dalam alam semesta,” jelasnya.

Di akhir sesi, ia memaparkan posisi Mushaf Standar Indonesia dalam peta permushafan dunia (kawasan Asia-Anatolia) serta menegaskan pentingnya relevansi khazanah tafsir ini dalam menguatkan moderasi beragama dan nilai keindonesiaan di era kontemporer.

Reporter: Layla Mariyatul Q.

Editor: Fatih Rizqan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama